Undang-undang yang membatasi akses aborsi membuat dokter menjauh dari layanan kesehatan perempuan, dan hal ini berdampak serius terhadap ketersediaan layanan kesehatan ibu di seluruh Amerika Serikat. Sebuah studi baru dari Universitas Johns Hopkins dan lembaga-lembaga lain menunjukkan bahwa negara-negara yang menerapkan undang-undang aborsi yang lebih ketat mengalami penurunan yang signifikan dalam jumlah dokter spesialis kebidanan-ginekologi (ob-ginekolog) yang tersedia untuk merawat pasien. Ini bukan hanya soal akses terhadap aborsi; hal ini merupakan erosi yang lebih luas terhadap infrastruktur layanan kesehatan perempuan.

Tenaga Kesehatan Ibu Menyusut

Para peneliti menganalisis data tenaga kerja dari tahun 2010 hingga 2021, membandingkan negara bagian yang menerapkan pembatasan aborsi baru dengan negara bagian yang tidak menerapkan pembatasan aborsi. Temuan-temuan yang ditemukan sangat mengejutkan: untuk setiap undang-undang restriktif yang disahkan—sering disebut undang-undang “TRAP” yang dirancang untuk membatasi akses aborsi—kira-kira kurang dua dokter kandungan per 100.000 perempuan usia subur yang keluar dari praktik tersebut. Penurunan ini mempengaruhi wilayah pedesaan dan perkotaan, dan terus berlanjut tanpa memandang status ekonomi atau tingkat asuransi.

Studi ini mempertimbangkan semua penyedia layanan kesehatan ibu: dokter kandungan (termasuk lulusan baru), pelamar residensi, praktisi perawat (NP), asisten dokter (PA), dan bidan. Yang terpenting, penurunan jumlah dokter kandungan tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah penyedia layanan kesehatan lain, sehingga perempuan memiliki pilihan layanan yang lebih sedikit.

Mengapa Dokter Pergi

Tren ini dimulai sebelum pembatalan Roe v. Wade, yang menunjukkan bahwa ancaman undang-undang yang lebih ketat pun akan menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi penyedia layanan. Bethany Everett, sosiolog di Ohio State University, para dokter khawatir akan dampak hukum dan konsekuensi profesional di negara-negara di mana layanan kesehatan reproduksi semakin dipolitisasi. Eksodus ini tidak selalu berarti relokasi ke negara-negara yang lebih ramah; beberapa dokter meninggalkan lapangan sama sekali.

Dampak Dunia Nyata: Akses dan Hasil

Lebih sedikit dokter kandungan memperburuk kekurangan layanan kesehatan yang ada. Hal ini berarti waktu tunggu yang lebih lama untuk membuat janji, tertundanya perawatan, dan meningkatnya beban pada penyedia layanan kesehatan lainnya. Di “daerah bersalin” – wilayah yang tidak memiliki fasilitas bersalin yang memadai – dampaknya bisa sangat buruk, berpotensi menyebabkan tingginya angka penyakit dan kematian ibu.

Akses yang dibatasi bukan hanya tentang aborsi. Hal ini berdampak pada semua aspek layanan kesehatan perempuan:

  • Peningkatan risiko komplikasi kehamilan: Tanpa perawatan yang memadai, wanita menghadapi kemungkinan lebih besar mengalami komplikasi kehamilan.
  • Kehamilan paksa dalam kasus yang mengancam jiwa: Pembatasan dapat menghalangi dokter untuk memberikan intervensi yang diperlukan.
  • Memburuknya kondisi kronis: Terbatasnya akses berarti berkurangnya penanganan masalah kesehatan yang ada.
  • Dampak terhadap IVF: Undang-undang dapat menghambat akses terhadap perawatan kesuburan.

Yang Harus Dilakukan Pasien

Jika Anda khawatir tentang akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, mulailah dengan sumber daya yang dapat diandalkan seperti American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan March of Dimes. Periksa ketersediaan klinik setempat dan pertimbangkan opsi telehealth jika legal. AbortionFinder.org menyediakan informasi khusus negara bagian mengenai akses aborsi dan penyedia terverifikasi.

Intinya begini: Pembatasan aborsi tidak hanya membatasi satu prosedur; mereka secara aktif membongkar infrastruktur layanan kesehatan perempuan, sehingga pasien mempunyai pilihan yang lebih sedikit dan risiko yang lebih tinggi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara pasti mengapa dokter keluar dan bagaimana pengurangan tenaga kerja ini berdampak pada hasil pasien di dunia nyata, namun trennya jelas—dan mengkhawatirkan.